Senin, 18 Juli 2011

Kampanyekan Bahaya Kantong Plastik Sejak Dini

Kesadaran mengurangi penggunaan kantong plastik dalam kehidupan sehari-hari harus ditanamkan sejak dini karena kantong plastik tidak dapat terdegradasi di alam. Hal ini diingatkan Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Limbah Domestik dan Skala Usaha Kecil Kementerian Negara Lingkungan Hidup Tribangun L Song di sela-sela Kampanye Antikantong Plastik di Kampus Institut Teknologi Bandung, Sabtu (9/2). Kegiatan yang dimotori Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB ini diikuti ratusan pelajar, mahasiswa, artis, dan aktivis lingkungan hidup di Kota Bandung. Di berbagai negara maju, kampanye antikantong plastik (white pollution) sudah menjadi hal lumrah. Pemerintah China dan Australia bahkan telah mengeluarkan kebijakan larangan bagi supermarket dan toko-toko membagi-bagikan plastik undegradable (tidak dapat terurai). Muhammad Chairul, dosen Teknik Lingkungan ITB, mengatakan, sampah plastik rata-rat memiliki porsi sekitar 10 persen dari total volume sampah. Dari jumlah itu, sangat sedikit yang didaur ulang. Padahal, sampah plastik berbahan polimer sintetik tidak mudah diurai organisme dekomposer. Butuh 300-500 tahun agar bisa terdekomposisi atau terurai sempurna. Membakar plastik pun bukan pilihan baik. "Plastik yang tidak sempurna terbakar, di bawah 800 derajat Celsius, akan membentuk dioksin. Senyawa inilah yang berbahaya," ujarnya.

Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/1764812-kampanyekan-bahaya-kantong-plastik-sejak/#ixzz1SROCdRu4

BPOM teliti bahaya kantong plastik kresek

JAKARTA (Pos Kota)- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan bahaya penggunaan 5 bahan kemasan makanan yang selama ini banyak digunakan oleh industri makanan.

Ke-5 jenis kemasan makanan yang diteliti oleh BPOM adalah kantong plastik kresek, styrofoam, plastic polivinil klorida (PVC), plastic polietilen (PE) dan polipropilen (PP).

Meski belum cukup bukti bahaya bahan kemasan makanan tersebut, namun proses daur ulang yang menggunakan bahan kimia berbahaya serta prosesnya yang sulit dilacak bisa jadi menimbulkan bahaya.

“Kami tidak tahu apakah plastik kresek yang kita gunakan untuk wadah makanan, ternyata sebelum didaur ulang merupakan bekas kotoran anjing, kotoran manusia, atau wadah limbah rumah sakit,” ujar Kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib, Selasa (14/7).

Itu sebabnya, Husniah mengingatkan agar masyarakat berhati-hati menggunakan plastik kresek daur ulang saat hendak digunakan sebagai wadah makanan. Kotoran yang terbawa pada saat proses daur ulang dan pencampuran bahan kimia bisa mengganggu kesehatan manusia.

Pada styrofoam lanjut Husniah ada batas keamanan yang harus diperhatikan oleh masyarakat. Diantaranya bahwa bahan kemasan makanan jenis styrofoam tidak bisa digunakan pada makanan berlemak, berminyak, beralkohol atau panas. Sebab jika ada residu dalam bahan kemasan makanan tersebut maka dampaknya bisa terkontaminasi pada bahan makanan kita.

“Nilai residu masing-masing bahan kemasan makanan tersebut memang relative kecil hanya berkisar antara 10 hingga 29 ppm dari angka kandungan yang dilarang yakni 5000 ppm,” lanjut Husniah.

Namun meski nilai residu bahan kemasan makanan tersebut relative kecil, sebaiknya kata Husniah masyarakat tetap berhati-hati. Penelitian yang dilakukan pada hewan, residu bahan kemasan makanan jenis stryrofoam bisa mengakibatkan kanker.

Beberapa negara Eropa, lanjut Husniah memang tidak lagi merekomendasikan penggunaan stryrofoam untuk kemasan makanan. Namun alasan pelarangan tersebut bukan karena efek negative pada tubuh manusia, tetapi lebih kepada alasan lingkungan. Sebab bahan kemasan makanan ini tidak bisa langsung hancur diurai bakteri.

“Butuh waktu 500 tahun untuk membusukkan bahan stryfoam maupun polipropilen,” tandas Husniah.

Bahaya limbah plastik

KOMPAS.com - Bahaya limbah plastik bukan omong kosong. Telah banyak penelitian membuktikan dahsyatnya limbah plastik mendatangkan bahaya termasuk potensi negatifnya dalam mendegradasi lingkungan.
Dampak negatif sampah plastik tidak sebesar fungsinya. Butuh waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah.

Hal yang pasti adalah dampak negatif sampah plastik tidak sebesar fungsinya. Butuh waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna.

Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin.

Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.

Bagi lingkungan, kantong plastik juga mengakibatkan banjir, karena menyumbat saluran-saluran air dan tanggul sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin waduk.

Diperkirakan, 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah ini dibentangkan maka, dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat!

Setiap tahun, sekitar 500 miliar hingga satu triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap orang menghabiskan 170 kantong plastik setiap tahunnya dan lebih dari 17 miliar kantong plastik dibagikan secara gratis oleh supermarket di seluruh dunia setiap tahunnya.

Perubahan iklim

Kantong plastik juga menjadi salah satu penyebab perubahan iklim utama di mana sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer.

Kegiatan produksi plastik membutuhkan sekitar 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya. Proses produksinya sangat tidak hemat energi. Pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah plastik juga mengeluarkan gas rumah kaca.

Saat ini berbagai negara di dunia mulai melarang dan merespon bahaya penggunaan kantong plastik, seperti di Kenya dan Uganda yang sudah secara resmi melarang penggunaan kantong plastik.

Sejumlah negara lain juga mulai mengurangi penggunaan kantong plastik di antaranya Filipina, Australia, Hongkong, Taiwan, Irlandia, Skotlandia, Prancis, Swedia, Finlandia, Denmark, Jerman, Swiss, Tanzania, Bangladesh, dan Afrika Selatan.

Singapura, sejak April 2007 telah berlangsung kampanye "Bring Your Own Bag" (bawa langsung kantong Anda sendiri), digelar oleh The National Environment Agency (NEA).

Pemerintahan China juga telah mengeluarkan rancangan undang-undang (RUU) mengatasi kantong plastik dan reaksi yang telah disiapkan antara lain pelarangan penggunaan tas plastik di departement store.

Para pembeli akan dikenakan bayaran untuk kantong plastik dan akan diberlakukan standardisasi produksi tas plastik.

Berbagai alasan itulah yang mendorong Beni Chandra memulai perlawanan terhadap limbah plastik di Indonesia. Baginya bahaya plastik harus disulap menjadi sesuatu yang mendatangkan lebih banyak berkah.

Bahaya Kantong plastik hitam

Awas Kantong Kresek Hitam Beracun...... Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan peringatan terhadap dua kemasan makanan berbahaya bagi kesehatan kerena mengandung bahan logam berat. Kedua kemasan yang mengandung racun ini adalah plastik polivinil klorida (PVC) dan kantong plastik kresek. "Jangan menggunakan kantong plastik kresek warna hitam atau yang lainnya untuk mewadahi makanan. Kantong kresek itu kebanyakan produk daur ulang," ungkap kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib di Jakarta, Selasa (14/7/2009). Dia menjelaskan, dalam proses daur ulang tersebut bahan yang digunakan sebelumnya tidak diketahui apa bekas wadah pestisida limbah rumah sakit, limbah logam berat, atau limbah manusia, sehingga sangat membahayakan kesehatan. Menurut Husniah, PVC yang terbuat dari monomer vinyl clorida tidak ikut bereaksi saat proses pembuatan plastik dan dapat tercampur dengan makanan yang berminyak atau berlemak, terutama dalam keadaan panas. Dia memaparkan, dalam pembuatan PVC ditambahkan penstabil senyawa timbal (tb), timah putih (sn), katnium (cd), residu, dan bahan lainnya yang berbahaya bagi kesehatan. "Bahan kimia tersebut mengakibatkan kanker hati, racun bagi ginjal, syaraf, kanker paru, dan dapat menggangu sistem endokrin," ungkap dia. BPOM, kata Husniah, telah melakukan sampling dan pengujian di laboratorium terhadap 11 jenis kemasan makanan dari plastik PVC. "Satu tidak memenuhi syarat yaitu tutup kue tar transparan berbentuk selinder dilengkapi alas warna hitam bentuk lingkaran. Kemasan ini mengandung bahan logam berat timbal 8,69," terang dia. Sebab itu, BPOM mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan kemasan makanan berbahan PVC untuk menyimpan makanan berminyak dan lemak terlebih dalam keadaan panas. Lebih lanjut Husniah mengatakan, untuk kemasan makanan dari steroform masih memenuhi syarat dan aman bagi kesehatan. Kemudian kemasan plastik dari polietilen (PE) dan polipropilen (PP) juga aman digunakan. "Tapi jangan menggunakan steroform dalam microwave, dan jangan menggunakan steroform yang kemasannya rusak untuk memawadi makanan berminyak dan berlemak apalagi dalam keadaan panas," imbuhnya. Dia menambahkan, bagi masyarakat yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut, dapat menghubungi unit layanan konsumen BPOM atau melihat situs www.pom.go.id. ...

Senin, 02 Mei 2011

Diet Kantong Plastik


Pisahkan antara sampah plastik dan sampah dapur. Sampah plastik bisa dikumpulkan untuk disumbang atau dijual kepada tengkulak untuk kemudian didaur ulang. Kalau kita kreatif, sampah-sampah plastik bisa dimodifikasi jadi benda-benda bernilai ekonomis. Jadi, sebaiknya pikir-pikir dulu sebelum barang-barang dari bahan plastik itu akan dibuang.Sedangkan sampah dapur juga bisa dijadikan kompos.
  • Saat membeli sesuatu di warung, toko, atau supermarket kalau jumlahnya sedikit mintalah kepada pelayan toko untuk tidak memberikan kantong plastik. Kita bisa pakai kantong plastik bekas yang sudah kita bawa dari rumah atau cukup dengan menentengnya saja.
  • Sebaiknya membawa tas jinjing atau semacam goodie bag saat kita berbelanja kemanapun. Tas ini relatif dapat memuat lebih banyak barang bawaan ketika berbelanja.
  • Membawa wadah khusus ketika berbelanja makanan siap saji, semacam rantang atau toples makanan (“tupperware”) daripada harus dibungkus yang pastinya harus menggunakan kantong plastik.
  • Menggunakan botol minuman yang dibawa dari rumah daripada membeli air dalam kemasan.

Nah! Mari hal ini dimulai dari kita sendiri dan lingkungan terdekat kita, dan tentunya harus dimulai dari sekarang! Semoga bermanfaat.


Apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah sampah (kantong) plastik ini? Upaya paling sederhana yang dapat dilakukan oleh kita adalah melakukan DIET KANTONG PLASTIK. Kenapa mempergunakan istilah DIET? Istilah DIET identik dengan perilaku BIJAK DALAM MENGKONSUMSI, dimana PENGURANGAN JUMLAH SAMPAH (KANTONG) PLASTIK merupakan isu utama yang perlu dilakukan oleh kita sebagai konsumen kantong plastik.

Beberapa cara DIET KANTONG PLASTIK antara lain:

1. REDUCE (PENGURANGAN) yaitu dengan meminimasi (mengurangi) pemakaian kantong plastik terutama ketika berbelanja. Barang belanja dapat kita bawa dengan mempergunakkan tas pribadi atau kantong khusus dari bahan non-plastik yang dapat dipakai berulang-ulang.

2. Perilaku REUSE (PENGGUNAAN KEMBALI) dilakukan jika pemakaian kantong plastik tidak dapat dihindari, maka kantong plastik yang telah dimiliki dapat digunakan kembali sehingga tidak terus menambah sampah (kantong) plastik yang dibuang ke lingkungan.

3. Sedangkan untuk RECYCLE (PENDAURULANGAN) dapat dilakukan dengan mengoptimalkan serta mendorong kegiatan pendaurulangan kantong plastik yang berjalan di masyarakat.

Dapat kita lihat sendiri, upaya DIET KANTONG PLASTIK ini adalah cara yang cukup sederhana, bukan? Namun, kesuksesan upaya DIET KANTONG PLASTIK ini sangat bergantung pada perilaku kita untuk melakukannya secara terus-menerus. Maka dari itu, YUK KITA DIET KANTONG PLASTIK! Mulai lakukan dari diri sendiri serta ajak orang-orang di sekitarmu! :D

Pengantar

Seluruh dunia, khususnya Indonesia, telah mengalami permasalahan lingkungan yang sangat mengkhawatirkan. Salah satunya penyebabnya adalah jumlah sampah yang dihasilkan oleh manusia, baik dari kegiatan industri maupun rumah tangga. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, berkembang pula industri, yang secara langsung maupun tidak langsung merubah pola hidup masyarakat, yang berujung pada tidak terkontrolnya jumlah sampah yang dihasilkan.

Salah satu jenis sampah yang perlu diawasi adalah sampah (kantong) plastik. Sampah (kantong) plastik yang menggunung disebabkan oleh pola hidup masyarakat modern dan serba ‘instan’ yang mendorong tingginya tingkat konsumsi (kantong) plastik di masyarakat. Sedangkan, sampah (kantong) plastik sendiri memiliki dampak yang berbahaya bagi lingkungan, antara lain:

1. Sampah (kantong) plastik sulit terurai; dibutuhkan waktu hingga 1000 tahun agar plastik dapat terurai secara sempurna di tanah. Di samping itu, plastik yang terurai di tanah tersebut dapat mencemari tanah dan air tanah.

2. Sampah (kantong) plastik yang dibakar akan menghasilkan asap yang mengandung dioksin, salah satu senyawa yang beracun dan berbahaya bagi kesehatan.

3. Sampah (kantong) plastik yang dibuang tidak pada tempatnya akan menyebabkan banjir karena menyumbat saluran air, tanggul, mencemari perairan, dan sebagainya.


Terlebih lagi sekitar 500 juta hingga 1 milyar kantong plastik digunakan di dunia setiap tahunnya. Jumlah yang sangat fantastis, mengingat lebih dari 17 milyar kantong plastik juga dibagikan secara gratis di seluruh dunia setiap tahunnya! Sampah (kantong) plastik juga berperan dalam fenomena pemanasan global karena menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di atmosfer. Alur perjalanan plastik dari proses produksi hingga pembuangannya membutuhkan sekitar 12 juta barrel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya. (berbagai sumber)

Berdasarkan rata-rata semua hasil riset yang didapatkan, jumlah pemakaian kantong plastik per orang per tahun sekitar 700 lembar*. Bila jumlah tersebut dikumpulkan dalam satu tempat, banyaknya dan bahayanya benar-benar menakutkan bak MONSTER. Jadi MONSTER KRESEK bisa dikatakan adalah hasil ciptaan kita sendiri yang masih menggunakan kantong plastik secara berlebihan.

beberapa fakta mengenai sampah plastik yang dikutip dari situs akuinginhijau.org

  • Diperkirakan 6.4 juta ton sampah masuk ke laut setiap tahunnya di seluruh dunia (disadur dari data National Academy of Sciences)
  • Perkiraan lainnya juga mengatakan sebanyak 8 juta potong sampah masuk ke laut setiap harinya.
  • Lebih dari 80% sampah plastik di seluruh dunia langsung dibuang ke tempat sampah yang akhirnya ke laut tanpa di daur ulang
  • 90% dari seluruh sampah di laut adalah plastik
  • Lebih dari 1 juta binatang laut mati akibat plastik setiap tahunnya
  • Setiap tahun rata-rata orang menghabiskan 700 kantong plastik
  • Supermarket di seluruh dunia memberikan lebih dari 17 milyar kantong plastik setiap tahunnya.
  • Setiap tahun diperlukan 12 juta barel minyak serta 14 juta pohon untuk membuat semua plastik
  • Sampah plastik terbanyak adalah botol dan pembungkus plastik sebanyak 56% dimana 3/4 berasal dari perumahan
  • Orang Amerika menggunakan 2.5 juta botol plastik per jam! Kalau di Indonesia? Bisa kurang atau mungkin bisa saja angkanya lebih dari itu.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More